A- A A+





Biodata Tokoh Ulama Hadith
Senarai Tokoh Ulama Hadith Kurun1, Kurun 2 dan Lain-lain
Zon: Kurun 1

 

Abul Ash bin Rabi al-Absyami al-Quraisyi, seorang pemuda kaya, tampan-rupawan, mempesona setiap orang yang memandang kepadanya. Dia hidup dalam kenikmatan, dengan status sosial yang tinggi sebagai bangsawan. Dia menjadi model bagi ahli-ahli penunggang kuda bangsa Arab dengan segala persoalannya, kesombongan, ciri-ciri kemanusiaan, kesetiaan, dan kebangsaan warisan nenek moyang.

Abul Ash memang mewarisi dari Quraisy bakat dan keterampilan berdagang pada dua musim, yaitu musim dingin dan musim panas. Kenderaannya tidak pernah berhenti pulang dan pergi antara Mekah dan Syam. Kafilahnya mencapai jumlah seratus ekor unta dan dua ratus pembantu. Masyarakat menyerahkan harta mereka kepadanya untuk diperdagangkan, karena dia telah membuktikan kepintaraannya dalam berdagang, dan dia selalu benar dan boleh dipercayai.

Khadijah binti Khuwailid RA, isteri Muhammad bin Abdullah SAW, adalah ibu saudara Abul Ash bin Rabi. Khadijah RA menganggap Abul Ash sebagai anak kandungnya sendiri, dan melapangkan tempat baginya di hati dan di rumahnya, suatu tempat yang tidak ada taranya, terhormat dan penuh kasih sayang. Begitu juga kasih sayang Muhammad bin Abdullah kepada Abul Ash, tidak kurang pula dari kasih sayang Khadijah kepadanya.

Masa pantas, tahun demi tahun berlalu cepat melewati rumah tangga Muhammad bin Abdullah SAW. Anaknya yang tertua telah menjadi puteri remaja, berkembang sebagai bunga ros mengorak kelopak dengan indahnya. Sehingga pemuda-pemuda putera para bangsawan Mekah teruja hendak memetiknya. Mengapa tidaknya? Bukankah Zainab gadis Quraisy keturunan bangsawan murni yang berakar dalam. Sebagai puteri daripada ibu bapak yang mulia, dia beradab dan berakhlak tinggi. Tetapi, bagaimana mereka akan dapat memetiknya? Di antara mereka telah hadir putra ibu saudara Zainab sendiri, seorang pemuda tampan dan rupawan, yaitu Abul Ash Ibnu Rabi yang tidak asing lagi.

Sekejap, baru beberapa tahun, berlangsung perkawinan Zainab binti Muhammad dengan Abul Ash, nur ilahi yang cemerlang memancar di kota Mekah yang diselimuti kesesatan. Allah SWT mengutus Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul-Nya dengan agama yang hak. Pertamanya Allah memerintahkan Nabi SAW supaya mengajak keluarga terdekat. wanita yang mula-mula beriman, ialah isterinya, Khadijah binti Khuwailid, dan puteri-puterinya: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, dan Fathimah, sekalipun ketika itu Fathimah masih kecil, kecuali menantunya, Abul Ash. Dia enggan berpisah dengan agama nenek moyangnya dan enggan pula menganut agama isterinya, Zainab. Walau demikian, Abul Ash tetap mencintai istrinya. Cintanya kepada Zainab tetap tulus dan murni.

Ketika pertentangan antara Rasulullah SAW dengan kaum kafir Quraisy semakin meningkat, mereka saling menyalahkan, “Celaka kalian ..! sesungguhnya kalianlah yang membawa kesusahan. Kalian nikahkan putera-puteri kalian dengan puteri-puteri Muhammad. Seandainya kalian kembalikan puteri-puteri Muhammad itu kepadanya, kita tidak akan memikirkannya lagi."

Jawab yang lain, “Itu suatu pemikiran yang bagus!” Lalu, mereka pergi menemui Abul Ash!"

Kata mereka, “Hai Abul Ash, ceraikan isterimu! Kembalikan dia ke rumah bapaknya! Kami sanggup dan bersedia mengawinkanmu dengan siapa yang engkau sukai dari ribuan wanita Quraisy yang cantik-cantik.”

Jawab Abul Ash, “Tidak! aku tidak akan menceraikannya. Aku tidak hendak menggantikannya dengan wanita mana pun di seluruh dunia ini.”

Dua orang puteri Rasulullah SAW, Ruqayah dan Ummu Kaltsum telah dicerai oleh suaminya dan dihantar kembali ke rumah bapaknya. Rasulullah SAW gembira menerima kedua puterinya itu. Bahkan, beliau ingin kiranya Abul Ash RA melakukan pula hal yang sama terhadap isterinya, Zainab. Sayangnya, beliau tidak kuasa untuk memaksakan keinginannya itu. Kebetulannya ketika itu, hukum Islam belum mengharamkan perkawinan wanita mukminah dengan pria musyrik.

Setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, kaum Quraisy memerangi beliau di Badar. Abul Ash terpaksa ikut berperang di pihak Quraisy, memerangi Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Dia memang sungguh-sungguh terpaksa karena tidak ada sedikit pun keinginan berperang dengan Rasulullah dan kaum muslimin. Tidak ada satu kepentingan yang akan diperolehnya dengan memerangi mereka. Hanya, karena ia bersekongkol bersama kaum yang memerangi Muhammad SAW.

Perang Badar membawa kekalahan besar yang memalukan bagi kaum Quraisy, sehingga menundukkan puncak kesombongan kemusyrikan, keangkuhan, keganasan, dan kekejaman mereka. Di antaranya ada yang terbunuh, ada yang tertawan, dan ada pula yang melarikan diri. Abul Ash, suami Zainab binti Muhammad SAW, termasuk kelompok orang yang tertawan.

Rasulullah SAW mewajibkan setiap tawanan menebus diri mereka dengan wang tebusan, jika mereka ingin bebas. Beliu menetapkan wang tebusan itu antara seribu sampai dengan empat ribu dirham, sesuai dengan kedudukan dan kekayaan tawanan itu dalam kaumnya. Maka, berdatanganlah para utusan pulang dan pergi antara Mekah dan Madinah membawa wang untuk menebus orang-orang yang tertawan.

Zainab binti Muhammad SAW mengutus utusan ke Madinah dengan wang tebusan untuk menebus suaminya, Abul Ash. Dalam wang tebusan itu terdapat antara lain sebuah kalung milik Zainab, hadiah dari ibunya, Khadijah binti Khuwailid, pada hari perkawinan Zainab dengan Abul Ash. Ketika Rasulullah SAW melihat kalung tersebut, wajah beliau berubah sedih dengan kesedihan yang sangat mendalam, membayangkan rindu kepada anaknya, Zainab, atau mungkin teringat dengan almarhumah isterinya, Khadijah binti Khuwailid RA.

Rasulullah SAW menoleh kepada para sahabat seraya berkata, “Harta ini dikirim oleh Zainab untuk menebus suaminya, Abul Ash. Jika tuan-tuan setuju, saya harap tuan-tuan bebaskan tawanan itu tanpa wang tebusan. Wang dan harta Zainab kirimkan kembali kepadanya.” Jawab para sahabat, “Baik, ya Rasulullah! Kami setuju!”

Rasulullah membebaskan Abul Ash dengan syarat dia mengantarkan zainab kepada beliau. Maka, setibanya di Mekah, Abul Ash segera berbuat sesuatu untuk memenuhi janjinya kepada Rasulullah. Diperintahkan isterinya agar segera bersiap untuk melakukan perjalan jauh ke Madinah. Para utusan Rasulullah SAW menunggu tidak jauh dari luar kota Mekah. Abul Ash menyiapkan perbekalan dan kenderaan untuk kepulangan isterinya. Abul Ash menyuruh adiknya, Amr bin Rabi, mengantar Zainab RA dan menyerahkannya kepada utusan Rasulullah SAW.

Amr bin Rabi menyandang busur dan membawa sekantong anak panah. Zainab dinaikkannya ke Haudaj. Mereka bertolak ke luar kota tengah hari, di hadapan orang banyak kaum Quraisy. Melihat mereka pergi, orang-orang Quraisy bangkit marahnya dan heboh. Lalu, mereka susul keduanya dan mereka dapatkan belum jauh dari kota. Zainab mereka takut-takuti dan ancaman. Tetapi, Amr telah siap dengan busur panah dan meletakkan kantong anak panah di hadapannya. Kata Amr, “Siapa mendekat, aku panah batang lehernya.”

Amr menang, terkenal dengan pemanah jitu yang tidak pernah gagal panahannya. Di tengah-tengah suasana tegang seperti itu, tibalah Abus Sufyan bin Harb yang sengaja dihubungi mereka. Kata Abu Sufyan, “Hai, anak saudaraku! letakkan panahmu! Kami akan bicara denganmu.”

Amr meletakkan panahnya. Kata Abu Sufyan, “Perbuatanmu ini tidak betul, hai Amr. Engkau membawa Zainab keluar dengan terang-terangan di hadapan orang banyak dan di depan mata kami. Orang Arab seluruhnya tahu akan kekalahan mereka di Badar dan musibah yang ditimpakan bapak Zainab kepada kami. Bila engkau membawa Zainab secara terang-terangan begini, berarti engkau menghina seluruh kabilah ini sebagai penakut, lemah dan tidak berdaya. Alangkah hinanya itu. Karena itu, bawalah Zainab kembali kepada suaminya untuk beberapa hari. Setelah penduduk tahu kami telah berhasil mencegah kepergiannya, engkau boleh membawanya secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, jangan dia siang bolong seperti ini. Engkau boleh mengantarkannya ke bapaknya. Kami tidak mempunyai kepentingan apa-apa untuk menahannya."

Amr setuju dengan saran Abu Sufyan. Dibawanya Zainab kembali ke rumah suaminya di Mekah. Sesudah beberapa hari kemudian Amr membawa Zainab ke luar kota dengan sembunyi-sembunyi pada tengah malam, dan menyerahkannya kepada para utusan bapaknya dari tangan ke tangan, sebagaimana dipesankan abangnya, Abul Ash bin Rabi.

Sesudah berpisah dengan istrinya, Abul Ash tetap tinggal di Mekah beberapa waktu hingga menjelang pembebasan kota Mekah. Dia berdagang ke Syam seperti yang biasa dilakukannya sebelumnya.

Pada suatau hari dalam perjalanan pulang ke Mekah, dia menggiring seratus ekor unta sarat dengan muatan, dan seratus tujuh puluh personel yang menggiring unta tersebut. Di tengah jalan, dekat Madinah, kafilahnya dicegah oleh pasukan patroli Rasulullah. Unta-untanya dirampas dan orang-orang yang menggiringnya ditawan. Tetapi, mujur bagi Abul Ash, dia lolos dari tangkapan dan bersembunyi. Setelah malam tiba dan hari sudah gelap, dia masuk ke kota Madinah dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali. Sampai di kota dia mendatangi rumah Zainab, minta bantuan dan perlindungan kepadanya. Zainab melindunginya.

Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. keluar hendak salat subuh, beliau berdiri di mihrab, dan takbir ihram. Jamaah pun takbir mengikuti beliau. Zainab berteriak dari shuffah (tempat para wanita). Katanya, “Hai, manusia! saya Zainab binti Muhammad! Abul ‘Ash minta perlindungan kepada saya. Karena itu, saya melindunginya!”

Setelah selesai salat, Rasulullah berkata kepada jamaah, “Adakah tuan-tuan mendengar teriakan Zainab?”

Jawab mereka, “Ada …! Kami mendengarnya, ya Rasulullah!”

Kata Rasulullah, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman-Nya! Saya tidak tahu apa-apa tentang hal ini, kecuali setelah mendengar teriakan Zainab.”

Kemudian Rasulullah pergi ke rumah Zainab. Katanya, “Hormatilah Abul Ash! Tetapi, ketahuilah, engkau tidak halal lagi baginya.”

Lalu, beliau memangil pasukan patroli yang bertugas semalam, dan menangkap unta-unta serta menahan orang-orang dari kafilah Abul Ash. Kata beliau kepada mereka, “Sebagaimana kalian ketahui, orang ini (Abul Ash) adalah famili kami. Kalian telah merampas hartanya. Jika kalian ingin berbuat baik, kembalikanlah hartanya. Itulah yang kami sukai. Tetapi, jika kalian enggan menggembalikan, itu adalah hak kalian, karena harta itu adalah rampasan yang diberikan Allah untuk kalian. Kalian berhak mengambilnya.”

Jawab mereka, “Kami kembalikan, ya Rasulullah!” Ketika Abul Ash datang mengambil hartanya, mereka berkata kepadanya, “Hai Abul Ash! Engkau adalah seorang bangsawan Quraisy. Engkau anak paman Rasulullah dan menantu beliau. Alangkah baiknya kalau engkau masuk Islam. Kami akan serahkan harta ini semuanya kepadamu. Engkau akan dapat menikmati harta penduduk Mekah yang engkau bawa ini. Tinggallah bersama kami di Madinah.”

Jawab Abul Ash, “Usul kalian sangat jelek dan tidak pantas. Aku harus membayar utang-utangku segera.” Abul Ash berangkat ke Mekah membawa kafilah dan barang-barang dagangannya. Sampai di Mekah dibayarnya seluruh utang-utangnya kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Kemudian dia berkata, “Hai kaum Quraisy! Masih adakah orang yang belum menerim pembayaran dariku?”

Jawab mereka, “Tidak! Semoga engkau dibalasi Tuhan dengan yang lebih baik. Kami telah menerima pembayaran darimu secukupnya.”

Kata Abul Ash, “Sekarang ketahuilah! Aku telah membayar hak kamu masing-masing secukupnya! Maka, kini dengarkan! Aku mengaku tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad sesungguhnya Rasulullah! Demi Allah! tidak ada yang menghalangiku untuk menyatakan Islam kepada Muhammad ketika aku berada di Madinah, kecuali kekhawatiranku kalau-kalau kalian menyangka aku masuk Islam karena hendak memakan harta kalian. Kini setelah Allah membayarnya kepada kamu sekalian dan tanggung jawabku telah selesai, aku menyatakan masuk Islam.”

Abul Ash keluar dari Mekah, pergi menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Beliau menyambut mulia kedatangannya, dan menyerahkan istrinya Zainab kembali ke pangkuannya.

Rasulullah berkata, “Dia berbicara kepadaku, aku mempercayainya. Dia berjanji kepadaku, dia memenuhi janjinya.”

Pin It